• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Jumat, November 6, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Dampak Fatal Bullying Digital

Remaja yang mudah menghujat di media sosial mengalami proses psikologis masa perkembangan berupa kontrol emosi dan pengendalian diri yang belum matang.

by Prohealth
Senin, 29 Juni 2026
A A
HARI PENDIDIKAN NASIONAL: Refleksi Ruang Digital dan Masa Depan Anak

(Sumber foto: Canva/2023)

Fenomena remaja yang ramai-ramai menghujat seorang ibu yang berjualan secara live di salah satu platform media sosial mendapat perhatian dari Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Yusuf Ryadi.

Menurut dia, fenomena itu mengindikasikan gejala sosial yang mencerminkan kualitas interaksi masyarakat. Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk membangun komunikasi dan interaksi positif, tetapi justru sering dipakai sebagai sarana melampiaskan agresi dan emosi negatif.

BacaJuga

Gubernur Sulawesi Selatan Terbitkan Larangan Penggunaan Vape buat Pegawai dan Pelajar

Satu dari Empat Remaja di Dunia Lapor Tak Ada Hari Aktif dalam Sepekan Sebelumnya

Hal ini, kata dia, menunjukkan adanya kesenjangan antara perkembangan teknologi dengan kesiapan budaya dan psikologis masyarakat kita. Ia menyatakan bullying di media sosial adalah suatu bentuk kekerasan verbal yang nyata dan berdampak serius bagi masyarakat. “Fenomena ini harus dipahami sebagai isu serius yang menuntut perhatian kolektif dan perlu kita hadapi bersama,” ucapnya tegas, Jumat, 26 Juni 2026.

Yusuf mengatakan, remaja yang mudah menghujat di media sosial mengalami proses psikologis masa perkembangan berupa kontrol emosi dan pengendalian diri yang belum matang. Sifat media sosial yang anonim dan instan membuat mereka merasa aman untuk mengekspresikan kata-kata kasar secara spontan lewat kolom komentar tanpa konsekuensi secara langsung.

“Anak yang terbiasa melakukan bullying berisiko tumbuh dengan pola komunikasi kasar, sulit membangun hubungan sehat, dan bahkan bisa mengalami masalah psikologis seperti kecemasan sosial atau kesulitan beradaptasi di dunia nyata,” ujarnya.

Dari sisi korban, kata dia, serangan verbal digital di luar ekspektasi ini berisiko memicu guncangan emosional, stres, rasa cemas, dan menurunkan kepercayaan diri. Korban bisa merasa terisolasi, takut tampil kembali, atau ragu melanjutkan aktivitas yang sebelumnya ia lakukan dengan penuh harapan.

Menurut dia, pada lansia, dampaknya bisa lebih berat karena mereka lebih rentan secara emosional dan tidak terbiasa menghadapi tekanan sosial di ruang digital. “Dalam jangka panjang, pengalaman negatif yang terjadi terus-menerus ini dapat meninggalkan luka psikologis berupa trauma, rasa malu, atau menarik diri dari lingkungan sosial,” kata Yusuf.

Sebagai solusi, Yusuf menegaskan strategi penanggulangan harus difokuskan pada aspek psikologis dan sosial secara kolektif. “Remaja perlu dibekali literasi digital yang menekankan etika berkomunikasi di ruang publik,” ungkapnya.

Edukasi, lanjutnya, harus menekankan pentingnya empati dan penghargaan terhadap orang lain. Melalui pembelajaran di sekolah, keluarga, maupun komunitas, remaja dapat dilatih untuk melihat media sosial sebagai sarana membangun interaksi positif, bukan tempat melampiaskan emosi atau mencari perhatian dengan cara merendahkan orang lain.

Dari sisi komunitas, ia menyatakan masyarakat harus bergerak membangun norma sosial baru yang menghapus budaya perundungan dan diskriminasi. “Dukungan kolektif berupa limpahan komentar positif, pembelaan terhadap korban, serta pelaporan konten perundungan secara massal sangat dibutuhkan untuk menciptakan tekanan sosial, sehingga tindakan menghujat tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang wajar,” katanya.

Secara kelembagaan, kata Yusuf, platform digital, media sosial, dan institusi pendidikan memiliki peran besar dalam membentuk ekosistem yang sehat. Moderasi konten, kampanye literasi digital, serta pendidikan etika komunikasi harus berjalan beriringan.

“Dengan pendekatan kolektif ini, fenomena hujatan di media sosial akan dianggap sebagai isu bersama yang menuntut solidaritas sosial dan regulasi yang tegas,” katanya.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Rumah Kami, Nikel Mereka: Ke Mana Perginya dari Indonesia
  • Gubernur Sulawesi Selatan Terbitkan Larangan Penggunaan Vape buat Pegawai dan Pelajar
  • Satu dari Empat Remaja di Dunia Lapor Tak Ada Hari Aktif dalam Sepekan Sebelumnya
  • Mengusut Dugaan Pencucian Kayu 23 Kontainer Asal Nabire di Surabaya
  • Aktivis: RSPO Itu Greenwashing di Tengah Karhutla dan Pelanggaran Hak Masyarakat
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.