• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Jumat, November 6, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Barantin dan FAO Perkuat Biosekuriti Nasional Hadapi Ancaman Penyakit Hewan Lintas Batas

Program dengan pendanaan sebesar USD 200.000 dari FAO ini menjadi langkah strategis dalam membangun sistem biosekuriti Indonesia yang lebih tangguh.

by Prohealth
Selasa, 7 Juli 2026
A A
Barantin dan FAO Perkuat Biosekuriti Nasional Hadapi Ancaman Penyakit Hewan Lintas Batas

Ancaman penyakit hewan lintas batas kini menjadi tantangan nyata bagi ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan kelancaran perdagangan internasional. Meningkatnya mobilitas manusia, hewan, dan komoditas antarnegara, ditambah dampak perubahan iklim, membuat risiko masuk dan menyebarnya penyakit hewan semakin tinggi.

Menjawab tantangan tersebut, Badan Karantina Indonesia (Barantin) bersama Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) memperkuat sistem karantina hewan nasional melalui program penguatan manajemen risiko berbasis sains dan teknologi.

BacaJuga

Gubernur Sulawesi Selatan Terbitkan Larangan Penggunaan Vape buat Pegawai dan Pelajar

Satu dari Empat Remaja di Dunia Lapor Tak Ada Hari Aktif dalam Sepekan Sebelumnya

Komitmen tersebut ditandai dengan peluncuran program FAO Technical Cooperation Programme (TCP/INS/4101) –Strengthening Animal Quarantine Risk Management through Integrated Assessment and Response Toward Agri-Threats- yang diawali melalui Inception Workshop di Jakarta, Selasa, 7 Juli 2026.

Program dengan pendanaan sebesar USD 200.000 dari FAO ini menjadi langkah strategis dalam membangun sistem biosekuriti Indonesia yang lebih tangguh, adaptif, dan mampu mengantisipasi ancaman penyakit sebelum masuk ke wilayah Indonesia.

Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, mengatakan sistem karantina saat ini harus mampu bertransformasi mengikuti dinamika perdagangan global yang semakin cepat. Menurutnya, penguatan pengawasan tidak cukup dilakukan di pintu pemasukan dan pengeluaran, tetapi harus didukung analisis risiko yang akurat, pemanfaatan teknologi digital, dan pengambilan keputusan berbasis data.

Ia mengatakan Barantin tidak ingin menjadi bottleneck di perbatasan. Namun, percepatan arus barang juga tidak boleh mengorbankan keamanan hayati Indonesia. “Karena itu, kami terus membangun sistem karantina yang modern, berbasis risiko, berbasis data, dan selaras dengan standar internasional agar mampu melindungi ketahanan pangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Karding.

Ia menjelaskan, ancaman Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK), penyakit hewan lintas batas, penyakit zoonosis, hingga spesies asing invasif tidak hanya berdampak pada sektor peternakan. Tapi juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat, menurunkan produktivitas, menghambat ekspor, bahkan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, sekitar 13 juta rumah tangga di Indonesia menggantungkan penghidupannya pada sektor peternakan. Sehingga, perlindungan terhadap kesehatan hewan menjadi bagian penting dalam menjaga kesejahteraan masyarakat.

Melalui program ini, Barantin bersama FAO akan memperkuat kapasitas nasional dalam pengelolaan risiko karantina hewan melalui tiga langkah utama. Pertama, meningkatkan kompetensi petugas karantina dalam melakukan analisis dan manajemen risiko sesuai standar internasional.

Kedua, mengembangkan sistem digital terintegrasi yang mendukung pemetaan Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK), analisis risiko, surveilans, dan Early Warning System (EWS). Sehingga, proses pengambilan kebijakan menjadi lebih cepat, akurat, dan berbasis bukti ilmiah. Ketiga, meningkatkan kesadaran masyarakat melalui komunikasi risiko dan kampanye publik agar pencegahan penyakit dapat dilakukan secara bersama-sama.

Kepala Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menegaskan tantangan penyakit hewan saat ini tidak dapat diselesaikan oleh satu sektor saja. Menurutnya, pendekatan One Health menjadi kunci dalam menjaga kesehatan hewan, manusia, tumbuhan, dan lingkungan secara terpadu.

Ia menyatakan sistem karantina hewan merupakan garda terdepan dalam melindungi negara dari ancaman penyakit lintas batas. “FAO berkomitmen mendukung Barantin memperkuat kapasitas analisis risiko berbasis teknologi digital agar Indonesia semakin siap menghadapi berbagai ancaman, sekaligus menjaga keamanan perdagangan, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan ekosistem,” kata Rajendra.

Lokakarya awal program dihadiri oleh perwakilan kementerian dan lembaga, akademisi, organisasi profesi, serta berbagai pemangku kepentingan. Forum ini menjadi momentum menyepakati arah implementasi program sekaligus memperkuat sinergi lintas sektor dalam membangun sistem karantina hewan yang lebih terintegrasi.

Bagi Barantin, penguatan biosecurity merupakan investasi jangka panjang bagi Indonesia. Sistem karantina yang kuat bukan hanya menjadi benteng pertama mencegah masuknya penyakit dan organisme pengganggu, tetapi juga meningkatkan kepercayaan negara tujuan ekspor terhadap komoditas Indonesia. Dengan demikian, perlindungan sumber daya hayati berjalan seiring dengan peningkatan daya saing perdagangan nasional.

Melalui kolaborasi strategis bersama FAO, Barantin menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan sistem perkarantinaan berkelas dunia yang adaptif, berbasis risiko, dan berorientasi pada pelayanan publik. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional, melindungi kesehatan masyarakat, menjaga kelestarian sumber daya hayati, serta mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Rumah Kami, Nikel Mereka: Ke Mana Perginya dari Indonesia
  • Gubernur Sulawesi Selatan Terbitkan Larangan Penggunaan Vape buat Pegawai dan Pelajar
  • Satu dari Empat Remaja di Dunia Lapor Tak Ada Hari Aktif dalam Sepekan Sebelumnya
  • Mengusut Dugaan Pencucian Kayu 23 Kontainer Asal Nabire di Surabaya
  • Aktivis: RSPO Itu Greenwashing di Tengah Karhutla dan Pelanggaran Hak Masyarakat
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.