• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Jumat, November 6, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Rokok, dan Tuberkulosis

Bukti ilmiah menunjukkan kebiasaan merokok berdampak buruk bagi terjadinya dan penanganan tuberkulosis.

by Prohealth
Minggu, 31 Mei 2026
A A
WAWANCARA EKSKLUSIF: Capai Eliminasi TBC, Pemerintah Akui Masih Optimis

Masalah tuberkulosis. (Sumber foto: Kemenkes/2024)

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Tjandra Yoga Aditama memberikan catatannya berkaitan dengan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) pada 31 Mei, hari ini. Ia menyatakan, WHO menyebutkan setiap tahun diperkirakan ada 8 juta kematian di dunia akibat kebiasaan merokok ini.

Karena Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mencantumkan tuberkulosis maka pada HTTS tahun ini ia membahas hubungan antara tuberkulosis dan kebiasaan merokok. Adjunct Professor Griffith University Australia ini mengatakan tuberkulosis terjadi akibat kuman Mycobacterium tuberculosis.

BacaJuga

Gubernur Sulawesi Selatan Terbitkan Larangan Penggunaan Vape buat Pegawai dan Pelajar

Satu dari Empat Remaja di Dunia Lapor Tak Ada Hari Aktif dalam Sepekan Sebelumnya

“Tapi bukti ilmiah menunjukkan kebiasaan merokok ternyata berdampak buruk bagi terjadinya dan penanganan tuberkulosis,” kata Tjandra dalam keterangannya.

Ia menyatakan, WHO dalam publikasi berjudul “Tobacco Exposed-Poisoning our planet and a key driver for the TB epidemic” menyebutkan tentang sedikitnya ada empat dampak kebiasaan merokok pada tuberkulosis.

Pertama, kebiasaan merokok adalah faktor penting pada epidemi tuberkulosis. Pada tahun 2020 diperkirakan ada 730 ribu kasus tuberkulosis yang berhubungan dengan kebiasaan merokok pasiennya.

Kedua, kata dia, risiko untuk mendapat tuberkulosis adalah dua kali lebih sering pada mereka yang merokok, termasuk yang terpapar asap rokok sebagai perokok pasif. Ketiga, kebiasaan merokok ternyata punya dampak memperlambat pemulihan dari sakit tuberkulosis.

“Ini juga berdampak pada keberhasilan pengobatan serta terjadinya kekambuhan dan bahkan kematian,” kata Tjandra.

Keempat, lanjut dia, pasien tuberkulosis yang masih merokok ternyata juga lebih sering mengalamai masalah keluhan paru-paru walaupun sudah menyelesaikan pengobatan tuberkulosisnya.

Tjandra juga menyatakan publikasi lain dari jurnal ilmiah internasional ‘Pathogens’ tahun 2024 yang berjudul “Cigarette Smoking as a Risk Factor for Tuberculosis in Adults: Epidemiology and Aspects of Disease Pathogenesis” menyampaikan bahwa tadinya, sejak 1918, sudah banyak diperdebatkan tentang hubungan antara tuberkulosis dan merokok.

Hanya saja kemudian, kata dia, dengan berbagai bukti ilmiah studi epidemiologik dan metaanalisis maka ditemukan dan dibuktikan bahwa perokok aktif dan juga perokok pasif jelas merupakan faktor risiko untuk lima hal tuberkulosis.

Pertama, kata Tjandra, adalah infeksi tuberkulosis. Kedua terjadinya reaktivasi tuberkulosis, dan ketiga perburukan tuberkulosis primer.

Keempat, kata Tjandra, peningkatan beratnya kasus tuberkulosis dengan kavitas (lubang di paru), dan kelima bahkan juga kematian akibat tuberkulosis.

Ia menyatakan publikasi ilmiah ini juga memaparkan bukti ilmiah dari sisi pendekatan penting lain, yaitu dua mekanisme aspek klinik-laboratorik. Pertama, asap rokok ternyata mengganggu, bahkan mensupresi, peran makrofag alveolar yang merupakan pertahanan tubuh terhadap kuman tuberkulosis.

Kedua, kata dia, asap rokok juga punya dampak terhadap kuman tuberkulosis, yang dengan proses mutasi genetik menyebabkan resistensi. Sehingga, kata dia, kuman tuberkulosis akan berpotensi kebal dan tidak dapat dibunuh oleh obat antituberkulosis yang diberikan.

“Dari uraian di atas maka jelas perlu ada koordinasi antara program pengendalian tuberkulosis dengan program penanggulangan merokok. Ini perlu juga diterapkan di negara kita, baik di tingkat klinik maupun kebijakan nasional,” tutur Tjandra.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Rumah Kami, Nikel Mereka: Ke Mana Perginya dari Indonesia
  • Gubernur Sulawesi Selatan Terbitkan Larangan Penggunaan Vape buat Pegawai dan Pelajar
  • Satu dari Empat Remaja di Dunia Lapor Tak Ada Hari Aktif dalam Sepekan Sebelumnya
  • Mengusut Dugaan Pencucian Kayu 23 Kontainer Asal Nabire di Surabaya
  • Aktivis: RSPO Itu Greenwashing di Tengah Karhutla dan Pelanggaran Hak Masyarakat
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.