• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Jumat, November 6, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Kacang Lokal Bisa Jadi Tempe untuk Kurangi Impor Kedelai

Secara ilmiah tempe tidak semata-mata ditentukan oleh jenis kacang yang digunakan, tetapi juga oleh proses fermentasinya.

by Tim Prohealth
Kamis, 30 Juli 2026
A A
Kurma dan Tempe Kombinasi Tepat untuk Energi Optimal Selama Puasa

Kacang lokal berpotensi diolah menjadi tempe sebagai alternatif bahan baku kedelai. Pengembangan ini dinilai dapat membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai yang saat ini mencapai sekitar 2,5 juta ton per tahun.

Pengembangan tempe berbahan baku lokal, seperti koro, gude, dan kecipir, dapat menjadi salah satu upaya diversifikasi pangan sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai.

BacaJuga

WALHI Desak Segera Percepat Redistribusi Lahan di Karang Sidemen-Lantan NTB

FITRA: Skandal Alat Sadap Negara, Ratusan Miliar Uang Rakyat Jadi Senjata Politik dan Ancaman Demokrasi

Guru Besar Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University sekaligus pakar biokimia pangan, Made Astawan, menjelaskan secara ilmiah tempe tidak semata-mata ditentukan oleh jenis kacang yang digunakan, tetapi juga oleh proses fermentasinya.

Menurutnya, berbagai jenis kacang dapat diolah menjadi tempe menggunakan inokulum kapang Rhizopus spp. yang dikenal masyarakat sebagai ragi tempe atau laru.

“Disebut tempe jika kacang, apa pun jenisnya, difermentasi dengan inokulum kapang Rhizopus spp. Dalam bahasa awam, inokulum tersebut disebut dengan ragi tempe atau laru,” kata Made.

Menurut Made, kapang yang berperan dalam pembuatan tempe terdiri atas beberapa jenis, antara lain Rhizopus oligosporus, Rhizopus oryzae, dan Rhizopus stolonifer. Selain kapang, bakteri dan khamir juga dapat terlibat dalam proses fermentasi, meskipun dengan peran yang lebih sedikit.

“Pada prinsipnya, semua jenis kacang dapat diolah menjadi tempe,” katanya. Namun, Made menjelaskan, perbedaan bahan baku mempengaruhi komposisi gizi dan karakteristik sensori produk.

“Tempe nonkedelai umumnya memiliki kadar protein lebih rendah, tekstur lebih keras, dan cita rasa yang cenderung kurang disukai dibandingkan tempe kedelai. Berdasarkan SNI (Standar Nasional Indonesia), kadar protein tempe minimal 15 persen,” urainya

Made menuturkan, kedelai masih menjadi bahan baku paling ideal untuk tempe karena memiliki kadar protein paling tinggi dan karbohidrat paling rendah dibandingkan jenis kacang lainnya. Kualitas protein tempe kedelai juga hampir setara dengan protein hewani, tetapi dengan harga yang lebih terjangkau.

Meski demikian, ia menilai kacang lokal memiliki prospek untuk dikembangkan melalui inovasi teknologi pangan. “Dengan berbagai modifikasi proses, kacang lokal Indonesia dapat diolah menjadi tempe dengan komposisi gizi dan penerimaan sensori yang mendekati tempe dari kedelai,” ujarnya.

Tags: imporipb universitykacangtempe
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Rumah Kami, Nikel Mereka: Ke Mana Perginya dari Indonesia
  • Gubernur Sulawesi Selatan Terbitkan Larangan Penggunaan Vape buat Pegawai dan Pelajar
  • Satu dari Empat Remaja di Dunia Lapor Tak Ada Hari Aktif dalam Sepekan Sebelumnya
  • Mengusut Dugaan Pencucian Kayu 23 Kontainer Asal Nabire di Surabaya
  • Aktivis: RSPO Itu Greenwashing di Tengah Karhutla dan Pelanggaran Hak Masyarakat
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.