• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Jumat, November 6, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Obesitas Penyakit Kronis, Pintu Utama Diabetes dan Komplikasi Mematikan

Hasil studi genetik menunjukkan hampir seluruh masyarakat Indonesia memiliki bakat atau gen diabetes.

by Admin
Selasa, 7 Juli 2026
A A
Lebaran Sebentar Lagi, Saatnya Jaga Berat Tubuh dari Kegemukan

(Sumber foto: Canva/2023)

Cara pandang terhadap obesitas harus segera diubah. Kondisi kelebihan berat badan kini bukan lagi sekadar persoalan estetika atau penampilan, melainkan penyakit kronis yang menjadi pintu masuk utama berbagai komplikasi serius, terutama diabetes melitus tipe 2.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan obesitas harus dikelola melalui tata laksana medis yang tepat. Berdasarkan data Program Cek Kesehatan Gratis, obesitas secara konsisten masuk dalam lima besar masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan di Indonesia.

BacaJuga

Gubernur Sulawesi Selatan Terbitkan Larangan Penggunaan Vape buat Pegawai dan Pelajar

Satu dari Empat Remaja di Dunia Lapor Tak Ada Hari Aktif dalam Sepekan Sebelumnya

“Berbicara tentang obesitas berarti berbicara tentang perubahan metabolisme tubuh. Dengan mengendalikan dan menurunkan angka obesitas, kita secara langsung dapat mencegah komplikasi lanjutan, seperti menurunkan angka kasus diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung,” ujar Dante dalam peluncuran inovasi medis terbaru di Jakarta, Sabtu, 4 Juli 2026, dikutip dari laman Kemenkes.

Dante mengungkapkan, hasil studi genetik dalam negeri menunjukkan hampir seluruh masyarakat Indonesia memiliki bakat atau gen diabetes. Namun, aktif atau tidaknya gen tersebut sangat bergantung pada gaya hidup sehari-hari. Risiko penurunan penyakit ini juga semakin meningkat akibat faktor keturunan yang semakin kuat.

“Jika hanya salah satu orang tua yang mengidap diabetes, risiko anak terkena diabetes masih di bawah 10 persen. Namun, jika kedua orang tua menyandang diabetes, risiko anak meningkat drastis menjadi 20 hingga 30 persen pada usia yang jauh lebih muda. Kurva risikonya naik tajam,” katanya.

Kondisi ini tecermin dari hasil survei kesehatan di Jakarta yang menunjukkan prevalensi diabetes telah mencapai 12,8 persen, atau setara dengan satu dari delapan penduduk Jakarta. Ironisnya, dari angka tersebut, baru sekitar 3 persen yang telah terdiagnosis. Sementara itu, sekitar 9,8 persen lainnya baru mengetahui dirinya mengidap diabetes saat mengikuti survei karena sebelumnya tidak merasakan gejala apa pun.

Dante mengatakan menjaga berat badan melalui modifikasi gaya hidup, seperti pengaturan pola makan dan olahraga, diakui bukan hal yang mudah. Data klinis menunjukkan tingkat keberhasilan diet mandiri dalam jangka panjang hanya sekitar 5 persen. Di sisi lain, operasi bariatrik masih terkendala biaya yang tinggi dan hanya diperuntukkan bagi kondisi medis tertentu.

“Di antara diet mandiri dan operasi bariatrik terdapat celah yang perlu diisi. Di sinilah pentingnya kehadiran inovasi obat-obatan medis terbaru untuk menjembatani kebutuhan tersebut,” ucap Dante, yang juga menjabat Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI).

Spesialis Endokrinologi dari Persatuan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Em Yunir, menambahkan prevalensi diabetes di Indonesia saat ini berkisar antara 11,5 hingga 11,7 persen.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam penanganan diabetes adalah penyakit ini jarang berdiri sendiri. Diabetes umumnya disertai berbagai penyakit penyerta (komorbid), seperti dislipidemia dan hipertensi, yang dapat memicu kerusakan organ, termasuk gagal ginjal.

Hadirnya inovasi pengobatan baru, seperti zat tirzepatide, diharapkan menjadi angin segar karena mampu bekerja secara menyeluruh dengan meniru dua hormon alami tubuh yang mengatur pusat rasa lapar di otak. Dengan mekanisme ini, pasien akan merasa kenyang lebih cepat dan lebih lama sehingga asupan kalori berkurang secara alami.

“Cukup dengan satu jenis pengobatan, berbagai masalah dapat ikut terkendali. Tidak hanya menurunkan kadar gula darah dengan sangat baik, tetapi juga menurunkan tekanan darah, memperbaiki profil kolesterol, hingga membantu menurunkan berat badan secara signifikan,” ujar Em Yunir.

Meskipun inovasi medis terus berkembang, kata dia, perubahan gaya hidup sehat melalui olahraga teratur dan pengaturan pola makan tetap menjadi fondasi utama. “Ini yang tidak boleh ditinggalkan dalam upaya mencegah dan mengendalikan obesitas maupun diabetes,” katanya.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Rumah Kami, Nikel Mereka: Ke Mana Perginya dari Indonesia
  • Gubernur Sulawesi Selatan Terbitkan Larangan Penggunaan Vape buat Pegawai dan Pelajar
  • Satu dari Empat Remaja di Dunia Lapor Tak Ada Hari Aktif dalam Sepekan Sebelumnya
  • Mengusut Dugaan Pencucian Kayu 23 Kontainer Asal Nabire di Surabaya
  • Aktivis: RSPO Itu Greenwashing di Tengah Karhutla dan Pelanggaran Hak Masyarakat
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.